Mbangun Suroboyo ala Rasiyo-Lucy

Umbul-umbul cawal-cawawali di daerah Darmo Permai
Umbul-umbul cawal-cawawali di daerah Darmo Permai

42 hari menjelang pelaksanaan Pemilukada 2015 di Surabaya, sudah tampak umbul-umbul calon cawali-cawawali yang dipasang oleh KPU. Terdapat perbedaan signifikan dalam disain yang terlihat. Pasangan nomor 2, Risma-Wisnu tidak memasang foto wajah seakan mengasumsikan seluruh warga Surabaya memang sudah tak asing dengan sosok mereka. Khususnya Risma, mantan walikota Surabaya peraih predikat World’s Best Mayor 2014. Bernuansa merah, warna parpol pengusung yaitu PDI-P, hanya terdapat tagline pasangan tersebut, IKI SUROBOYO, seakan menyindir saingannya yang bukan asli arek Suroboyo. Berbeda dengan pasangan nomor 1, Rasiyo-Lucy yang memasang foto wajah beserta tagline, MBANGUN SUROBOYO TEKO PINGGIRAN. Secara popularitas, mungkin Rasiyo-Lucy masih kalah oleh kompetitornya dimana Risma sudah lebih dulu melayani rakyat Surabaya.

Namun pada banyak kesempatan calon pemilih lantas hanya berpaku pada faktor ‘kedekatan’ dan acuh terhadap calon nomor 1. Jarang ada yang tahu bahkan paham mengenai visi-misi calon yang didukung. Padahal program kerja Rasiyo-Lucy tidak kalah dengan saingannya.

(Baca Visi-Misi Rasiyo-Lucy)

Jika pasangan Risma-Whisnu berfokus pada pembangunan ekonomi berdaya saing MEA yang tetap mengedepankan pembangunan berbasis ekologi, Rasiyo-Lucy sesuai tagline kampanyenya, mencanangkan pembangunan yang berpusat rakyat yang diringkas dalam motto Yok Opo Rek, Enake Mbangun Suroboyo, dan pertumbuhan ekonomi berpihak pada rakyat miskin dengan strategi Mbangun Suroboyo Teko Pinggiran. Tindakan nyata yang direncanakan adalah pembangunan tol tengah untuk menghubungan wilayah pinggiran dengan sentral kota Surabaya. Salah satu hal baru yang diusung dalam visi-misi calon walikota adalah isu gender. Dalam poinnya yang ketiga, ditulis bahwa “laki-laki dan perempuan diposisikan sebagai pelaku (subjek) yang setara dalam akses, aspirasi, dan kontrol atas pembangunan.” Hal ini tentu menarik karena isu kesetaraan gender dalam perpolitikan selalu menjadi permasalahan usang yang tak kunjung usai dan jarang disentuh oleh calon kepala daerah.

Rasiyo-Lucy juga mencanangkan 12 program kerja termasuk merevitaliasi budaya, cagar budaya, dan penyelesaian surat hijau dengan win-win solution . (Baca Rasiyo-Lucy Canangkan 12 Program Prioritas). Strategi kampanye berupa turun langsung ke masyarakat dan mengoptimalkan relawan yang ada diharapkan mampu mensosialisasikan visi-misi serta program kerja ke calon pemilih.

Mbangun Suroboyo ala Rasiyo-Lucy

Lambatnya Sosialisasi H-42 Menjelang Pemilukada 2015

Pemilih pemula seakan belum mendapat posisi prioritas dalam kegiatan politik seperti Pemilukada yang akan diadakan serentak pada tanggal 9 Desember 2015 nanti. Hal ini diamini oleh Siswanto, salah satu pengajar di SMA Dharma Mulya Surabaya. Tingginya angka golput menandakan kurangnya sosialisasi yang ditujukan kepada penduduk kategori pemilih pemula. Padahal keberlangsungan demokrasi di Surabaya hanya membutuhkan waktu 10 menit dari tiap individu untuk datang ke TPS dan memberikan suaranya. “KPU dan tim pendukung calon yang seharusnya memberikan sosialisasi agar pemilih pemula juga bisa tahu visi-misi calon,” ungkapnya.

Hingga sejauh ini, pendekatan baru dilakukan oleh cawali-cawawali dan tim sukses meskipun masih jarang terdeteksi kamera media. Dari pihak KPU malah baru melakukan pemasangan alat peraga kampanye (APK) di banyak titik di Surabaya. ‘Tenggelamnya’ hingar bingar pemilihan umum tahun ini salah satunya disebabkan oleh pencalonan yang sempat mandek hingga masa perpanjangan pendaftaran (Baca: KPU Surabaya Akui Sosialisasi Pilwali Belum Masif). Hal ini berpengaruh pada penggunaan dana sosialisasi yang dikhawatirkan mubazir bila Pemilukada diundur hingga tahun depan. Setelah penetapan 2 pasangan calon, Rasiyo-Lucy dan Risma-Whisnu, KPU baru mengurus lagi program-program sosialisasi ke masyarakat.

Polemik UU Pilkada adalah salah satu faktor utama penyebab ‘garing’nya Pemilukada tahun ini. Lemahnya regulasi yang ada memberikan celah permasalahan, khususnya terkait calon pasangan tunggal. Dengan revisi yang tidak kunjung datang dari DPR, hingga periode perpanjangan pendaftaran calon, masih ada 7 daerah yang mempunyai calon tunggal. Berdasarkan UU Pilkada, jika hingga 9 Desember statusnya masih tetap sebagai calon tunggal, pemilukada akan diundur hingga tahun 2017.

(Baca: UU Pilkada)

Hal ini tentu membuat resah masyarakat karena yang menjadi taruhan adalah kondisi politik dan hak-hak demokrasi rakyat. Belum lagi aliran dana yang terancam mengalir entah kemana. Permasalahan ini diduga karena UU Pilkada memperumit pendaftaran calon baik dari parpol maupun independen, UU pun tidak mempunyai pasal yang mengantisipasi adanya calon tunggal. Proses yang ada pun akan menjadi serba salah. Pengunduran Pemilukada akan menyeret polemik-polemik sampingan dalam perjalanannya. Sedangkan regulasi yang menyebabkan tidak adanya alternatif pilihan akan ‘menyakiti’ demokrasi rakyat saat pemilih tetap diharuskan masuk ke dalam bilik pemungutan suara untuk mencoblos nama calon tunggal.

Angka golput dalam Pilpres tahun 2014 lalu cukup membuat keder, sekitar 56,7 juta pemilih. Beberapa praktisi menilai tahun ini angka golput di tiap daerah akan meningkat. Padahal dibutuhkan partisipasi nyata dari masyarakat untuk mencapai pemilihan yang berasaskan langsung, umum, rahasia, jujur, dan adil. Untuk menghindari hal tersebut, dengan sisa 42 hari menjelang penyelenggaraan Pemilukada, KPU Surabaya akan bergerak cepat (Baca: KPU Surabaya Maksimalkan Sosialisasi Pilkada) . Bahan-bahan sosialisasi sudah siap untuk disebarkan termasuk poster, flyer, mug, tas, dan alat peraga. Meskipun tidak memiliki waktu banyak, Nur Syamsi selaku komisioner KPU Surabaya, mengaku optimis pihaknya dapat memaksimalkan kesempatan yang ada.

Pemilukada adalah gawe besar Kota Surabaya. Sebagai bukti akan berlangsungnya demokrasi, tentu ada harapan akan partisipasi langsung dari masyarakat. Golongan pemilih pemula dan kesadarannya akan partisipasi politik sudah menjadi pekerjaan rumah banyak pihak. Mulai dari keluarga, instansi pendidikan, dan instansi pemerintahan terkait -dalam kasus ini KPU- sebagai kesadaran akan bernegara.Tanggal 9 Desember 2015 nanti akan menjadi saksi apakah sosialisasi sudah dilaksanakan secara menyeluruh hingga ke ranah pemilih pemula yang dinilai masih awam dalam menggunakan hak suaranya.

Lambatnya Sosialisasi H-42 Menjelang Pemilukada 2015

Apa Kata Pemilih Pemula Surabaya tentang PEMILUKADA 2015?

Atmosfir politik di Surabaya semakin terasa menjelang Pemilukada yang akan diadakan serentak pada 9 Desember nanti. Baliho kedua calon, pasangan Rasiyo-Lucy dan Risma-Wisnu, yang selalu dipasang berdampingan tampak di banyak sudut kota. Berbagai hambatan yang sempat mewarnai proses pencalonan beberapa waktu lalu semakin membuat Pemilukada Surabaya tahun ini semakin berwarna. Pemberitaan media yang semakin gencar seharusnya dapat meningkatkan awareness masyarakat, namun ternyata tidak untuk golongan pemilih pemula.

Jumlah pemilih pemula di Kota Surabaya dalam Pilwali 2015 diperkirakan kurang lebih 6 persen atau 136.000 orang, sedang total pemilih mengacu Pilpres 2014, mencapai 2,1 juta orang. Komisioner KPU Kota Surabaya, Nurul Amalia, mengungkapkan angka itu bisa meningkat atau menurun (Baca: Jumlah Pemilih Pemula Mencapi 6 Persen)

Suara pemilih pemula dianggap krusial dalam memaksimalkan elektabilitas calon. Terlebih bagi pasangan Rasiyo-Lucy yang secara popularitas dapat dikatakan kalah saing dengan kompetitornya. Strategi sosialisasi di instansi pendidikan pun dilakoni. Mantan Kadispendik Jawa Timur ini menyambangi SMK PGRI 13 Surabaya di jalan Sidosermo dua (2) untuk menjadi narasumber di acara pencerahan kesiapan guru dan siswa SMK PGRI 13 Surabaya dalam rangka menghadapi MEA 2015. Rasiyo menyampaikan materi-materi khusus kepada para pelajar di era pasar bebas ASEAN. Walaupun menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan bagian dari kampanye, Rasiyo sempat membeberkan bahwa timnya menargetkan 70 persen suara dari pemilih pemula yakni dari kalangan siswa tingkat menengah atas (Baca: Kunjungi Instansi Pendidikan, Rasiyo Rangkul Calon Pemilih Pemula).

Tentu angka ini tidak dapat dibilang kecil. Jumlah tersebut dapat berdampak besar pada elektabilitas pada Pemilukada tahun ini. Golongan pemilih pemula dapat dibagi menjadi dua kategori berdasarkan tingkat pendidikan, mahasiswa dan pelajar SMA. Kelompok mahasiswa, dalam rentang umur tertentu tergolong pemilih pemula, tidak dapat dikatakan awam terhadap proses politik yang akan dilaksanakan. Dunia perguruan tinggi yang diwarnai wacana dan aksi kritis terhadap pemerintah dan perpolitikan yang ada telah menjadi makanan sehari-hari mahasiswa. Pengajar pun acapkali memasukkan unsur isu sosial yang tengah terjadi ke dalam diskusi kelas. Barisan mahasiswa pula yang pertama kali maju saat Risma-Whisnu terancam menjadi calon tunggal saat belum ada pasangan calon baik dari parpol maupun koalisi yang mendaftar hingga masa perpanjangan pendaftaran cawali-cawawali. Saat itu Aliansi BEM se-Kota Surabaya bahkan mendaftarkan dua pasangan calon sebagai bentuk kritik.

Berbeda dengan pemilih pemula dari kelompok pelajar SMA. Strategi sosialiasi lewat media sosial dan penyuluhan pemilu yang ditujukan ke komunitas anak muda oleh KPU Surabaya ternyata belum berhasil meningkatkan kesadaran pelajar SMA akan hak suaranya. Dalam wawancara terhadap beberapa pelajar SMA di Surabaya, hampir semua mengaku tidak tahu tanggal diadakannya Pemilukada serentak.

Sebagian besar pelajar bahkan tidak mengenal nama calon nomor satu, Rasiyo dan Lucy Kurniasari. Saat ditanya mengenai visi-misi tiap calon, semuanya juga menjawab tidak tahu-menahu. Namun dapat dilihat bahwa citra Tri Rismaharini tampak telah melekat kuat sebagai walikota berprestasi selama masa jabatannya.Yang menarik adalah ketidaktahuan para pelajar ini terhadap visi-misi dan awamnya mereka terhadap kasus penyelewengan wewenang yang dituduhkan terhadap Risma tidak mengurangi keyakinan mereka untuk memberikan suaranya bagi salah satu pemegang predikat World’s Best Mayor 2014 ini. Berbeda dengan lawannya, pasangan Risma-Whisnu tidak secara langsung menunjukan usahanya merangkul pemilih pemula. Meski begitu, popularitas dan elektabilitas pasangan nomor 2 ini terbukti dengan diadakannya deklarasi dukungan oleh kelompok masyarakat yang terdiri dari Pemuda Pemilih Pemula, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), Karang Taruna, Tokoh Masyarakat Surabaya dan Ikatan Keluarga Madura (Ikamra) Surabaya (Baca: Pemilih pemula, Kartar, dan Ikamra deklarasi dukung Risma-Wisnu).

Yang jelas, kurangnya kesadaran pelajar SMA terhadap pemilukada menandakan sosialisasi tidak dilakukan secara maksimal dan menyeluruh. Hal ini dapat mengancam demokrasi dalam pemilihan kepala daerah dan maraknya golput. Akan salah saat beban tanggung jawab atas jaminan terlaksananya kegiatan demokratis di Surabaya ini hanya dilimpahkan ke pihak KPU saat tenaga pengajar juga mempunyai tanggungan moral dan sosial yang sama dalam mengenalkan pelajar, SMA khususnya, akan hak yang dapat mereka gunakan untuk menentukan pemimpin kota ini nantinya. Partisipasi politik pelajar, terutama yang telah cukup umur untuk memberikan suaranya, diharapkan tidak hanya terbatas pada wacana yang didapat dari hafalan teks di buku saja.

Apa Kata Pemilih Pemula Surabaya tentang PEMILUKADA 2015?